Header Ads

Saatnya yang Muda yang Bicara

Damailah Bangsa dan Negeriku, Kutunggu Jayamu Ibu Pertiwi


Sudah hampir setahun belakang, beberapa media sosial maupun televisi banyak memberitakan permasalahan mengenai banyaknya keributan sana-sini. Sebenarnya beberapa masalah yang menjadi viral dan ramai mengenai persoalan keberagaman dan keagamaan bukan soal yang baru di negara Indonesia. Mari kita lihat sejarah. Para pendiri bangsa ini awalnya membentuk Pancasila dari Piagam Jakarta, silahkan dibaca ada penggalan mengenai kalimat yang merujuk pada keimanan salah satu agama di Indonesia, namun ketika dirumuskan dan diangkat ke forum diskusi untuk disahkan konsep Pancasila, kalimat tersebut akhirnya diubah dan menjadi Pancasila yang kita junjung sekarang.

Jika ditelaah dari kaca mata sejarah, tidak mungkin sesuatu yang sudah dipatenkan dan menjadi konstitusi dihadapan bangsa lain akan digeser dan tergantikan? Akan ada Negara barukah? Saya rasa ini tidak mungkin, sebab Indonesia terbentuk atas dasar Bhineka Tunggal Ika. Saya bingung mengapa ada konsep perubahan pemikiran pancasila diinterpretasikan dan dituggangi oleh oknum-oknum politik dan ormas? Saya rasa kita hanya sedang diuji dan diganggu pemikirannya sebagai warga Negara Indonesia, agar kita tidak memperhatikan hal-hal yang harusnya dipikirkan seperti kualitas pendidikan, lowongan pekerjaan, harga sembako, pemberantasan korupsi, dll. Beberapa kejadian yang membuat terjadi aksi sebenarnya dapat terjadi karena ada oknum tertentu yang menyalahgunakan, maka terjadilah sebuah aksi ini dan itu atas dasar sesuatu.

Kita hanya harus berpikir semakin kritis mengenai berbagai masalah, jangan bicara sembarang jika tidak kompeten dalam masalah tersebut. Tapi bukan karena tidak kompeten maka kita berdiam diri persoalan Negara dan keutuhan bangsa, melainkan kita harus mencari kebenaran dan keutuhan fakta. Jangan mau dijadikan kambing hitam perpecahan agar Negara ini bubar, sesungguhnya penjajah itu tidak menghilang hanya cara mereka yang berbeda. Seharusnya bangsa ini sudah dan sedang menikmati hasil jerih payah umur yang ke 71 tahun dan beberapa bulan akan ke 72 tahun. Mari kita bangun negeri ini menjadi lebih baik.  

Permasalahan keributan yang muncul beberapa bulan belakang juga termasuk karena kita dalam bermasyarakat kurang toleran. Kita hanya selalu hidup dalam lingkungan homogen. Saya orang islam bergaul dengan sesama islam tanpa pernah berkenalan dengan orang nonmuslim. Begitu juga orang-orang nonmuslim mereka bergaul dengan sesamanya.  Jika kita selalu mengaitkan toleransi dengan agama tanpa memahami makna sesungguhnya yang ada kita akan menjadi sesorang yang penuh kebencian. Semua agama menganggap agama mereka benar. Misalnya saya sebagai seorang beragama Islam menyakini agam saya itu benar dan yang lain kafir, agama Nasrani pun sama menganggap agama mereka paling benar, agama Budha menganggap mereka adalah agama paling benar, dll. Pemikiran tersebut sudah terbiasa tertanam dalam pikiran kita, lalu mengapa terjadi keributan soal agama? Kita mengungkit sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan sehingga timbul menjadi masalah. Semua agama juga mengajarkan kita harus menghargai orang yang beragama di luar agama yang kita anut, berbuat baik terhadap mereka, bertanya dan bertegur sapa. Persoalan agama jangan dikaitan dengan interaksi sosial karena akan timbul rasa curiga.

Kita kurang terbuka persoalan menghargai dalam bertukar pikiran nonagama. Toleransi merupakan hal sosial. Toleransi berikaitan dengan interaksi dan sikap. Jika dalam hal ini toleransi selalu dikaitkan dengan agama kita salah besar. Kita bangsa dengan berbagai suku dan bangsa. Bahasa kita berjuta-juta. Konsep toleransi juga harus diterapkan pada hal tesebut. Jika rasa toleransi tinggi maka nega ini akan baik-baik saja.

Kemudian, rasa kebersamaan bangsa ini mulai turun. Nasionalisme kita sudah sejauh mana. Di gedung hijau sana sudah sejauh mana negara ini dibahas. Nasionalisme bukan tentang kita seorang politikus, warga biasapun mempunyai peran besar ketika rasa nasionalismenya tinggi. Seorang yang nasionalismenya tinggi akan mempunyai pemikiran mempertahankan keutuhan negaranya, mencintai tanah airnya. Tidak memikirkan kepentingan diri sendiri tapi orang lain. Ketiga hal yang saya jelaskan diatas merupakan opini diri saya sebagai warga sipil. Saya tidak pernah ingin bangsa ini tercerai berai. Malu pada dunia. Malu pada jargon Macan Asia. Semua kembali kepada prinsip dan sikap pribadi sebagai warga negara Indonesia.  Jayalah bangsaku dan negeriku, Indonesia.



Penulis: 
Rifa Nurafia

___________________________
Image Credit : muda.dutadamai.id

No comments

Salam, Pemuda!
Saatnya yang Muda yang Bicara!


Terima kasih telah berkunjung, silakan berkomentar :)

*Segala hal yang berkaitan dengan tulisan dalam website ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis tersebut sesuai yang tertera di bagian awal atau akhir tulisan.

________

// MudaBicara is one of Youth Community or Non-Profit Organization in Indonesia. We strive to provide a place for young people to voice ideas and literary works //