Header Ads

Saatnya yang Muda yang Bicara

Nasionalisme Romo Mangunwijaya dalam Novel Burung-Burung Manyar

Rama Mangun (dibaca "Romo Mangun" dalam bahasa Jawa). Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami-istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Nama aslinya adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dilahirkan di Ambarawa, Jawa Tengah 6 Mei 1929 dan meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999. Pengarang dengan kemampuan serba bisa alumnus Filsafat Teologi Sancti Pauli, Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959), Teknik Arsitektur ITB, Bandung (1959), Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966), Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978). Karya novel yang membawa namanya terangkat dalam dunia kesusastraan lewat penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996 yaitu novel berjudul 'Burung-Burung Manyar‘ (BBM), novel tersebut menjadi bagian penting dari kesustraan di Indonesia.




Romo Mangun lewat karya novel BBM memberikan kesan pada pembaca soal nilai-nilai moral, terutama nilai nasionalisme bahwa sesungguhnya pengabdian pada bangsa sendiri lebih penting dari pada berpihak pada bangsa lain. Nilai-nilai moral itulah yang membuat sastra mempunyai nilai tinggi sebagai kebudayaan batin suatu bangsa, sebab pada sastra terutama novel mengajak kita berpikir, merenung, tentang tindakan tokoh-tokoh dan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan-tindakan itu. Sehingga, pembaca menemukan teladan ketika menikmati sebuah karya sastra terutama novel bagi kehidupannya.

Rasa nasionalisme merupakan perasaan yang ada dalam diri seseorang mencintai bangsa, merelakan diri dan berjuang untuk kepentingan dan nama baik bangsa. Sebuah rasa yang mungkin harus terus digali dan diperbaharui terus menerus agar tetap ada dan tidak menghilang. Dalam karya novel Romo Mangunwijaya “Burung-Burung Manyar” para pembaca diajak mengetahui bagaimana rasa nasionalisme itu berkembang dari masa perjuangan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan. Sebuah novel sejarah yang ditulis dengan awalan seperti halnya menonton pertunjukan wayang.

Romo Mangunwijaya dalam novel BBM melihat revolusi Indonesia dari segi Belanda (KNIL) lewat sepak terjang tokoh Setadewa yang sadar dan berdiri di pihak lawan. Romo juga menyajikan sebuah realita rasa nasionalisme pada masa penjajahan lewat tokoh Atik. Pergejolakan antara kedua tokoh tersebut terbalut dalam persoalan percintaan yang berbalut dengan polemik politik dan cinta terhadap bangsa sendiri. 

Sebuah persoalan nasionalisme yang sampai zaman sekarang mungkin perlu dipertanyakan pada setiap individu yang mengaku berbangsa, sudah sejauh mana rasa nasionalisme itu tumbuh pada diri kita masing-masing. 

Romo Mangunwijaya lewat tokoh-tokoh dalam novel BBM melabrak dan menggugat kebatilan, pengkhianatan berikut akibat yang ditimbulkan. Sehingga nasionalisme pada novel Burung-Burung Manyar memberikan cakrawala serta pengalaman bagi para pembaca yang ingin melihat berbagai sisi kehidupan tidak hanya dari satu sudut pandang.


Penulis: 
Rifa Nurafia


Bibliografi:
Rahmanto, B . Y.B. Mangunwijaya: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo. 2001. horisononline.or.id, diunggah 31 Desember 2016, pukul 14.00 WIB.

______________
Image Credit : gr-assets.com

No comments

Salam, Pemuda!
Saatnya yang Muda yang Bicara!


Terima kasih telah berkunjung, silakan berkomentar :)

*Segala hal yang berkaitan dengan tulisan dalam website ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis tersebut sesuai yang tertera di bagian awal atau akhir tulisan.

________

// MudaBicara is one of Youth Community or Non-Profit Organization in Indonesia. We strive to provide a place for young people to voice ideas and literary works //