Header Ads

Saatnya yang Muda yang Bicara

Privasi Guru Diabaikan, Guru Wajib Melayani 24 Jam?


Beberapa bulan yang lalu, publik dihebohkan dengan berita seorang guru yang memukul muridnya di dalam kelas. Kejadian tersebut bukan pertama kali terjadi di dunia pendidikan. Di media onlinepun menjadi viral. Mendidik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan yang kapanpun dapat dilakukan. Mendidik memang tugas guru di sekolah. Lalu, bagaimana saat siswa di rumah? Apakah guru harus melayani 24 jam? Sesuaikah tugas guru dengan gaji yang didapat?




Mendidik merupakan aktivitas fisik maupun mental yang dilakukan seorang guru.  Guru menjadi suatu profesi yang menantang saat ini. Dikatakan menantang karena perkembangan zaman yang semakin pesat. Kemajuan teknologi yang canggih membuat perubahan besar bagi seluruh manusia khususnya peserta didik. Penggunaan kurikulum 2013 dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) yang berisi bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dampak dari penggunaan teknologi bisa dalam bentuk positif maupun negatif tergantung pada siapa pemakainya. Perubahan perilaku positif misalnya menggunakan media facebook sebagai media untuk belajar dengan menyerap ilmu yang bermanfaat untuk diaplikasikan dalam hidupnya. Sebaliknya, perubahan negatif yang terjadi yaitu pemakaian yang tidak semestinya misalnya tidak bisa lepas dari gadget karena bermain games, malas mengerjakan PR, kemudian banyak kejahatan yang terjadi terutama berkaitan dengan sosial media. 

Seorang guru memiliki peranan besar dalam menghadapi perubahan zaman peserta didiknya. Khususnya dalam hal mendidik siswa. Penggunaan teknologi semakin pesat seringkali membuat orang tua risau dengan perkembangan anaknya. Guru bertanggung jawab terhadap perilaku siswa ketika siswa berada di lingkungan sekolah. Jika siswa berada di luar sekolah berarti sudah konteks lingkungan masyarakat. Lain halnya, saat siswa berada di lingkungan rumah.

Mendidik menggunakan teknologi yang canggih tidak mudah. Salah satu contoh kemajuan teknologi bidang komunikasi yaitu aplikasi whatsapp. Saat ini whatsapp memiliki fitur canggih yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsi semestinya. Kemudahan komunikasi mengirim pesan dapat bermanfaat untuk semua elemen masyarakat. Hanya dengan memiliki pulsa paket internet, semua dapat diakses. Salah satunya komunikasi antara orang tua murid dengan guru. 

Berdasarkan pengalaman penulis dan tergolong dalam teori constructivism. Di mana teori constructivism adalah suatu komunikasi melalui satu sosial komunitas. Saya menjadi seorang guru honorer di salah satu sekolah swasta. Miris memang, saat guru sudah selesai dalam urusan di lingkungan sekolah, terkadang terdapat orang tua murid yang mencari tahu lebih dalam mengenai perkembangan anaknya saat di sekolah. Guru menjadi orang tua saat di sekolah tetapi guru juga punya batasan mengenai kehidupan pribadinya. Ketika orang tua mencari informasi mengenai perkembangan anaknya, ada beberapa orang tua yang tidak sadar mengenai waktu yang digunakan untuk menghubungi guru. Kemudian, nada yang digunakan terkadang terlalu emosional saat mendapat informasi mengenai perilaku atau tindakan anaknya yang melanggar peraturan sekolah berkesan tidak menerima. Tidak hanya hal itu saja, terkadang orang tua mendapat informasi dari anaknya hanya sebagian dan tidak mendapat informasi yang sepenuhnya. Hal tersebut menyebabkan orang tua murid menjadi salah paham terhadap guru.

Salah satu kasus yang penulis hadapi ketika orang tua mengirim pesan melalui whatsapp pada pukul 21.30 WIB. Isi pesan tersebut berupa bentuk protes orang tua terhadap pihak sekolah dikarenakan anaknya tidak mendapat santunan bahwa anak tersebut anak yatim. Dari bentuk protes wali murid tersebut, penulis berusaha untuk meluruskan persepsi wali murid dengan menjelaskan secara detail bahwa pihak sekolah tidak memberikan santunan untuk anak yatim. Santunan tersebut didapat dari yayasan tempat pengajian dari salah satu murid teman sekelas anaknya. Kemudian wali murid tersebut menyadari kesalahpahaman yang terjadi dengan meminta maaf dan mengakhiri percakapan di malam itu. 

Contoh kasus di atas membuat penulis merasa miris karena sikap wali murid tersebut yang bisa dikatakan tidak tahu waktu. Karena sudah larut malam dengan mempertanyakan masalah santunan dalam bentuk rupiah yang tidak didapat oleh anaknya. Begitu beratkah tugas guru? Begitu detailkah yang harus diurus tanpa memperhitungkan waktu? Guru juga manusia biasa, banyak hal yang harus dikerjakan di luar urusan sekolah. Memang tugas guru seperti orang tua kedua di sekolah tetapi kami sebagai guru juga punya kehidupan pribadi tidak bisa melayani 24 jam mengenai urusan sekolah.

Solusi yang penulis dapatkan mengenai persoalan tersebut
  1. Memberitahu kepada orang tua murid dalam hal waktu untuk berkomunikasi membicarakan perkembangan atau persoalan lain yang berurusan dengan anaknya.
  2. Selalu memberikan informasi terbaru kepada orang tua murid. Dengan tujuan orang tua murid mengetahui sepenuhnya informasi dari guru bukan dari murid saja.
  3. Bekerja sama dengan orang tua mengenai perilaku dan tindakan anaknya saat berada di sekolah dan di rumah.
  4. Memberikan gambaran kepada orang tua murid jika suatu hal bisa diurus sendiri silakan diselesaikan secara mandiri dan tidak bergantung kepada guru.
  5. Memberikan waktu untuk diri sendiri sebagai bahan me-refresh, merenung, atau mengurus hal mengenai keluarga yang tidak berkaitan dengan urusan sekolah.


Penulis:
Sri Mardi Asih
Mahasiswa Pascasarjana 
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)

______________
Image Credit: cloudfront.net (edited)

No comments

Salam, Pemuda!
Saatnya yang Muda yang Bicara!


Terima kasih telah berkunjung, silakan berkomentar :)

*Segala hal yang berkaitan dengan tulisan dalam website ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis tersebut sesuai yang tertera di bagian awal atau akhir tulisan.

________

// MudaBicara is one of Youth Community or Non-Profit Organization in Indonesia. We strive to provide a place for young people to voice ideas and literary works //