Berdamai dengan Masa Lalu (Part 1)



Berkali-kali aku memainkan jari jemariku dengan cemas. Berharap kecemasanku sirna dengan menyentuh ujung-ujungnya. Aku meminum segelas greentea latte favoritku yang disediakan di kafe itu. Saat pandanganku mengarah ke arah pintu masuk, akhirnya sosok yang sedari tadi aku tunggu telah datang. Senyumku merekah menyambut langkahnya yang bergerak ke arahku.

"Kamu kok lama banget? Aku udah satu jam tunggu disini." Ucapku sambil berusaha membuat ekspresi wajah yang tetap menggemaskan.

"Iya sayang. Maaf ya. Tadi abis anter Jimy dulu. Kasian dia mobilnya mogok ngga bisa kemana-kemana."

"Kamu anter kemana?"

"Ke rumah Nadia."

Aku menangkap ada suatu hal yang tidak biasa yang sedang disembunyikan oleh pacarku, Sky. Ia nampak gelisah dan berusaha memaksakan senyumnya berkali-kali ketika ia kedapatan sedang melamun dan terlihat kosong olehku. Sebagai wanita aku menggunakan intuisiku terhadap apa yang sedang terjadi. Namun aku pun tidak boleh menuduhnya tanpa alasan yang jelas. Maka akhirnya aku melewati malam itu dengan tanda tanya besar di kepala. Aku tahu Sky sedang menyembunyikan sesuatu. Dan aku pun tidak memaksa sedikitpun kepadanya untuk memberitahuku perihal tersebut. Maka aku dapati diriku merasakan kegelisahan yang luar biasa saat malam sebelum pejam.

***

Hubunganku dengan Sky terbilang masih belum terlalu lama. Kita baru pacaran lima bulan. Aku mencintainya, kurasa. Entahlah aku tidak pernah merasa jika aku bisa benar-benar mencintai seseorang. Aku pernah jatuh cinta satu kali. Itu sepertinya adalah jatuh cintaku yang pertama dan terakhir. Nyatanya setelah ia pergi, hati ini kerap kali dikunci oleh sentuhan kasih sayang dari laki-laki manapun. Nampaknya aku masih belum benar-benar bisa melupakannya. Kekasih lamaku yang entah keberadaannya dimana sekarang. Kita menjalin kasih saat aku masih duduk di bangku SMA. Namun karena ia harus pindah ke luar kota bersama dengan keluarganya, hubungan kami pun kandas. Tak ada yang tersisa selain cerita. Sejak hari itu aku mulai membencinya. Entahlah. Saat itu aku hanya anak-anak dengan tingkat emosi yang masih cukup tinggi. Pikirku saat itu adalah dengan membencinya akan memudahkanku untuk lebih cepat melupakannya. Sepeninggal ia yang memutuskan hubungan denganku secara sepihak, aku mulai menutup hati dari laki-laki manapun. Hatiku masih terbawa oleh kisah masa laluku yang aku rasa masih belum selesai. Lima tahun berlalu. Aku mulai mendapati diriku terdorong untuk mulai membuka hati kembali. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Sky. Laki-laki pertama yang dapat membuka hatiku yang sekian lama telah terkunci. Kehadiran Sky nampak membuat hidupku menjadi lebih sempurna. Ia laki-laki yang cukup baik dan menyenangkan.

***

Keesokan harinya aku memutuskan untuk berkunjung kerumah Sky. Ini hari yang cukup cerah untuk bepergian keluar. Aku pergi ke dapur dan bergegas membuat makanan yang dapat aku jadikan surprise kecil dariku untuknya. Semoga hal-hal kecil seperti ini dapat membuat hubungan kami menjadi lebih erat kembali.

Sesampainya dirumah Sky. Aku mendapati mobil orang lain terparkir dengan sempurna di halaman rumahnya. Aku tidak terlalu ambil pusing. Mungkin saja itu tamu keluarga. Aku masuk dan bertegur sapa dengan si Mba yang biasa mengurus kebutuhan Sky dan keluarganya dirumah. Lalu aku bertemu dengan Mamanya Sky, Tante Sita yang sedang asyik menonton TV diruang tengah.

***

"Hallo, Tante, apa kabar?" Ucapku dengan senyum yang merekah sempurna diantara kedua pipi.

"Kabar baik sayang. Cari Sky ya? Dia ada dikamar. Kebetulan juga lagi sama temannya."

"Temannya? Siapa tante?" Aku mulai penasaran.

"Nadia."

Jantungku terasa jatuh hingga ke perut. Rasanya seperti memakan sesuatu yang pahit yang dipaksa masuk ke dalam mulut. Aku bingung menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Dan sepertinya aku mencium sesuatu yang tidak biasa. Aku mulai mengumpulkan diriku kembali yang terpecah sejenak akibat kenyataan bahwa Sky tengah berada berdua dengan Nadia di kamar. Nadia sangat dekat denganku. Ia termasuk salah satu sahabatku. Namun bukan berarti ia bisa sedekat itu dengan Sky. Nadia dan Sky bukan teman. Maksudku, mereka hanya mengenal satu sama lain melalui perantaraku. Dan setahuku Nadia sedang dekat dengan Jimy yang merupakan teman dekat Sky. Aku menarik nafas dan membuat diriku fokus kembali dengan situasi saat itu. Aku menilai bahwa ini masih di dalam batas wajar. Mungkin Nadia kesini karena ingin bertemu dengan Jimy. Atau ada urusan lain yang menyangkut dengan Jimy dan membutuhkan bantuan Sky. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk berpikir positif. Meski hati ini berkali-kali meneriakan kata 'naif'.

"Ya sudah tante. Aku ke kamarnya dulu, ya". Aku paksakan senyumku di depan Tante Sita. Aku tak ingin dia menyadari perubahan air muka ku yang berubah menjadi canggung.

Tante Sita kembali menonton TV. Aku bergegas menaiki tangga menuju lantai dua rumah Sky menuju kamarnya. Aku berpikir bahwa barangkali jika apa yang dirasakan hatiku benar bahwa ada sesuatu yang tidak beres antara Sky dan Nadia, aku dapat memergoki mereka melakukan sesuatu yang sesungguhnya saat membayangkan itu hatiku menjadi ngeri sendiri. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka pintu kamar Sky tanpa ada ketuk terlebih dahulu. Ternyata pintu itu tidak terkunci dan aku berhasil membukanya dengan sempurna. Dan saat itu pula aku mendapati mereka berdua tengah berpelukan dengan mesra.

"Jadi kelakuan kalian di belakang gue kayak gini?" Ucapku sambil setengah berteriak dan masih berdiri di ambang pintu.

Tanpa ba-bi-bu, aku segera keluar dari kamar Sky. Aku berlari menuruni tangga sambil menangis. Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Kepercayaanku terhadap Sky hilang saat itu juga. Terlebih lagi saat aku mengingat ia main gila dengan sahabatku sendiri. Perempuan murahan. Sahabat macam apa yang tega merebut pacar sahabatnya sendiri. Dia bukan sahabat. Sama sekali bukan. Dan Sky benar-benar telah menghancurkan rasa percayaku tentang cinta. Setelah sekian lama aku mencoba membuka hati dan berusaha menutup rapat luka masa lalu yang pernah aku alami, kini aku diingatkan kembali dengan rasa sakit itu. Luka yang mulai sembuh kini dipaksa harus merasakan sakit lagi. Sungguh aku benar-benar membenci mereka. Tidak peduli apapun seribu alasan yang akan mereka berikan.

***

Keesokan harinya, aku bangun lebih siang dari pada biasanya. Sepertinya aku terlalu lelah menangisinya semalaman. Aku benar-benar mendapati diriku menjadi sangat berantakan. Perasaanku kacau bukan kepalang. Aku mengambil ponselku dan mengeceknya. 23 missed calls from Sky. Dan juga beberapa pesan teks dari Sky, Nadia, dan nomor baru yang aku tidak dapat mengenalinya.

From Sky
14.22
Kamu salah paham. Aku bisa jelasin semuanya.
15.03
Jawab telpon aku.
15.56
Kamu masih mau terus kaya gini? Kamu ngga mau denger penjelasan aku dulu?
20.09
Aku di depan rumah kamu. Please keluar.
21.25
Jawab dulu telponnya.

Hanya itu. Dia sendiri tidak berusaha menjelaskan lewat teks apa yang terjadi sebenarnya. Aku pun tidak mau tahu alasannya apa. Aku tidak peduli. Kamu telah menyakiti perasaanku, Sky. Apapun alasanmu aku tidak akan lagi peduli.

From Nadia
14.30
Lo salah paham, Sa. Gue sama Sky sama sekali ngga ada hubungan apa-apa. Gue bukan sahabat yang seperti itu. Yang lo liat itu cuma salah paham. Sky meluk gue cuma untuk nenangin gue yang lagi curhat tentang Jimy ke dia. Lo tau gue sama Jimy udah deket kan? Bahkan bisa dibilang, selangkah lagi gue sama dia bakal resmi jadian. Tapi nyatanya apa, Sa? Gue cuma di phpin sama dia. Dia pun udah deketin cewek lain dan baru aja jadian sama cewek itu sekitar sebulan lalu. Dimana gue sama dia masih panggil sayang-sayang setiap telpon atau chat. Gue bingung harus cerita sama siapa. Akhirnya gue dateng kerumah Sky dan curhat sama dia. Dia ngerasa ngga enak juga sama gue karena udah ngenalin gue sama temennya yang brengsek. Sky sendiri ngga nyangka Jimy bisa kaya gitu. Maafin gue, Sa. Gue harap kita masih bisa temenan.

Oke, Nadia. Jadi sedihmu harus kamu bagikan juga padaku? Maksudnya, apa karena Jimy telah melakukan hal buruk seperti itu padamu, jadi membenarkan sikapmu yang dengan mudahnya terlibat kontak fisik dengan laki-laki lain yang mana kamu tahu bahwa laki-laki itu merupakan pacar sahabatmu sendiri? Tidak Nadia. Aku tidak bisa menerima alasan seperti itu.

From +6281267567xxx
Alesa, kalau kamu hitung udah berapa lama kita sama-sama, jawabannya 6 tahun terhitung dari hari pertama kita jadian sampai hari ini. Kalau kamu hitung dari kapan aku tinggalin kamu, jawabannya 5 tahun sampai sekarang. Dan dari tiap-tiap tahun yang aku lewatin, ngga ada satu hari pun aku lewatin untuk engga mikirin kamu. Kamu masih ada di hati aku. Sampai sekarang. Sampai hari ini. Detik ini. Saat aku kirim sms ini ke kamu. Aku minta maaf. Aku sayang kamu Alesa. Selalu.
     - Dani -


Kalau-kalau tidak ada gravitasi bumi yang menarik tubuhku untuk tetap diam ditempat aku berdiri, aku pasti sudah melayang-layang diatas atap kamarku. Dani?! Dia datang kembali. Datang lagi di kehidupanku. Entah mengapa sakit hati yang aku rasakan tentang Sky seolah-olah langsung hilang begitu saja. Nyatanya pesan teks yang dikirim Dani telah mengobati semuanya. Bukan cuma sakit hatiku hari itu namun sakit hati yang sudah aku rasakan bertahun-tahun lamanya. Bertahun-tahun pula aku menyimpan tanda tanya besar mengapa ia begitu mudahnya mengakhiri hubungan kita berdua. Kepindahannya keluar kota tidak bisa dijadikan alasan. Karena aku sendiri pun tidak keberatan sama sekali dengan hubungan jarak jauh.

Dani, jika isi pesan yang kamu kirimkan benar-benar merupakan apa yang ada dihatimu, aku ingin memberimu kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Untuk mengulang segala hal yang telah kita lakukan bersama. Dani, karena dari tahun-tahun yang telah aku lewati pula, tak ada satu hari pun aku tidak mengingat kenangan akan kita. Namamu yang masih aku sebut di hati ini. Ingatan tentangmu yang masih muncul di setiap malam sebelum pejam. Kurasa, aku masih sangat mencintaimu. Meskipun telah berkali-kali aku enyahkan namamu dari pikiranku, namun tetap masih saja muncul kembali. Aku juga menyayangimu, Dani. Selalu.

***

Hari ini benar-benar hari yang paling aku tunggu-tunggu. Setelah sekian lama aku menunggu kabar darinya yang menghilang begitu saja, hari ini aku akan bertemu kembali dengannya. Untuk menyelesaikan segala hal yang belum terselesaikan antara aku dan Dani. Aku mengundangnya kerumah. Untuk membicarakan segala hal yang sudah terjadi selama ini, aku butuh banyak ruang untuk bisa bernostalgia dengan kejadian-kejadian di masa lalu dengannya. Dan sepertinya akan sulit berbicara dari hati ke hati apabila kita berada di keramaian. Beberapa jam lagi Dani akan datang. Seperti apa rupanya sekarang? Lima tahun berlalu apa ada yang berubah darinya? Atau Dani-ku masih sama seperti Dani yang aku kenal dulu? Aku benar-benar tidak sabar menanti kedatangannya.

Mobil Chevrolet Spin hitam memasuki halaman rumahku. Itu bukan mobil Sky pastinya. Dugaanku ini pasti Dani. Akhirnya dia datang juga. Aku bergegas kedepan rumah menyambut kedatangannya. Dani keluar dengan setelan kemeja polos berwarna merah maroon yang bagian tangannya di gulung sampai lengan. Membuat tingkat kemaskulinannya jadi bertambah. Dengan jeans hitam dan sepatu sport, Dani-ku telah berubah menjadi sosok yang lebih mengagumkan dari sebelumnya. Ia terlihat begitu dewasa sekarang. Ia terlihat begitu lembut, hangat, dan tatapannya penuh dengan kasih sayang. Tatapan itu yang dulu sering membuat aku tenggelam di dalamnya. Hari ini aku pun kembali tenggelam di dalam tatapan itu lagi. Oh, Dani. Aku rindu.

***


Aku duduk dengannya di sofa yang berada di ruang tengah. Aku menyediakan es milo kesukaannya pada jaman sekolah dulu. Aku harap dia masih menyukainya.

"Es milo? Masih inget ya kesukaan aku apa?" Dani berbicara sambil mengerlingkan matanya. Membuatku menjadi sesak nafas dan salah tingkah. Ah, orang ini.

"Memang kebetulan lagi adanya ini. Makanya aku sedian. Kalau orang jauh dateng di kasih air putih aja kan ngga enak." Aku mencoba mengelak. Aku tidak ingin Dani beranggapan bahwa aku masih mengingat setiap detail tentang dirinya. Meskipun kenyataannya memang seperti itu. Tapi ya, jual mahal sedikit kurasa tidak apa-apa. Terlebih lagi mengingat dia sudah memutuskan hubungan sepihak denganku bertahun-tahun lalu.

"Aku ngga bisa lama-lama ya, Sa, disini. Aku tahu aku juga sebenernya masih pengen lama-lama sama kamu. Aku kesini sebagaimana yang kita tahu bahwa hubungan yang kita jalin lima tahun lalu ada yang masih belum terselesaikan. Aku kesini bakal kasih penjelasannya ke kamu. Tapi sebelumnya aku harap kamu siap dengan apa yang akan kamu denger dari aku. Aku harap kamu bisa maafin segala hal yang udah aku lakuin ke kamu."

"Lima tahun lalu saat aku pindah sekolah ke luar kota, aku dikenalin sama anaknya temen Mama dan Papa. Mereka pengin aku kenal lebih jauh dengan Valerie, nama perempuan itu. Aku sama sekali ngga bisa ngebuka hati aku untuk orang lain karena aku masih terus inget kamu. Aku berharap Valerie juga punya perasaan yang sama. Aku berharap dia ngga suka sama aku dan bakalan membatalkan perjodohan kita. Aku pun ngga habis pikir kenapa Mama Papa jodohin aku di umur aku yang masih belasan itu. Tapi mereka bilang itu semua untuk kebaikan hubungan kedua keluarga. Yang mana keluargaku dengan keluarga Valerie sudah bersahabat sejak lama. Aku masih bisa nanganin Mama dan Papa. Yang susah itu ternyata nanganin Valerie-nya. Dia naksir berat sama aku. Terlebih lagi dia tahu kalau aku bakalan dijodohin sama dia. Dia berubah jadi cewek yang mengerikan. Yang super protektif. Hingga pada suatu hari aku memutuskan untuk mengklarifikasi semuanya dengan Valerie. Aku mau bilang kalau aku sama sekali ngga setuju dengan perjodohan kita. Aku mau bilang kalau aku punya kamu. Aku masih punya kamu. Dan hati ini ngga akan pindah kemana-kemana. Aku juga bilang kalau aku ngga akan bisa cinta sama dia. Tapi pernyataan aku ternyata bikin dia marah. Dia entah sampai sekarang aku ngga tahu apa yang udah dia masukin ke minuman aku waktu itu, telah berhasil ngebuat aku tidur sama dia. Keesokan paginya, aku terbangun udah ngga pake apa-apa. Valerie mengelus-elus rambutku dan bilang kalau semuanya bakal baik-baik aja. Aku tidak mengerti mengapa ia bisa setenang itu. Sedangkan aku sendiri dibuat gila oleh kenyataan bahwa aku berhadapan dengan perempuan yang setengah sinting. Perempuan mana yang dengan sengaja minta untuk ditiduri?! Aku benar-benar kehabisan akal."

"Sebulan kemudian, Valerie hamil. Ia meminta pertanggungjawabanku. Aku tadinya ingin mengelak, tapi kenyataan benar-benar ada di depan mata. Bahwa aku adalah ayah dari jabang bayi diperutnya. Aku hancur saat itu, Sa. Aku benar-benar hancur. Saat itu aku ingin kamu ada disamping aku dan bilang bahwa ini cuma mimpi buruk. Saat itu aku cuma pengin peluk kamu untuk meredakan perasaan aku yang begitu kalut menghadapi semuanya. Orang tua kita akhirnya menikahkan kita. Tentunya tanpa resepsi besar-besaran. Karena aku dan Valerie belum lama lulus dari SMA pada saat itu. Dan aku masih menginginkan masuk perguruan tinggi. Setelah menikah dan punya anak, Val mengurungkan keinginannya untuk lanjut kuliah kedokteran. Sedangkan aku diberikan izin untuk tetap melanjutkan pendidikan. Ia berubah menjadi wanita baik-baik setelah menikah. Ia berubah menjadi istri yang dapat di andalkan dan juga ibu yang hebat untuk Jovian. Nama anakku. Sekarang dia sudah berumur satu tahun. Setelah aku menerima semua takdir Tuhan yang digariskan untukku, aku benar-benar merasakan ketenangan yang luar biasa. Aku mulai bersyukur atas keluarga kecil yang sudah Tuhan berikan untuk mendampingi hidupku. Aku tidak punya alasan untuk membenci Valerie. Mau bagaimanapun, ia telah melahirkan darah dagingku. Dan juga telah berubah menjadi istri yang baik. Meskipun bukan namanya yang ada di hati ini. Meskipun masih kamu nama yang selalu aku sebut. Aku merasa sangat bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakuin ke kamu bertahun-tahun lalu. Aku pengin kamu bisa lepas kembali dan bisa melanjutkan hidup. Meskipun kita sudah memiliki kehidupan masing-masing sekarang. Kenangan tentang kita ngga akan pernah bisa aku lupain. Valerie pun tahu kalau kamu adalah cinta pertama aku dan menjadi satu-satunya orang yang masih belum bisa aku lupain sampai sekarang. Dia mengizinkan aku kesini dan menyelesaikan semua urusan aku sama kamu. Dia sekarang ada di dalam mobil bersama Jovian. Kamu mau ketemu mereka?"

Aku terperanjat. Berusaha mengumpulkan kembali diriku yang lagi-lagi harus dihadapkan dengan kenyataan pahit seperti ini. Dani, aku bingung harus berkata apa. Aku bingung aku mesti sedih atau gimana. Kamu sudah memiliki keluarga Dani. Kenyataannya adalah kisah kita tidak akan pernah bisa terulang kembali. Semua benar-benar hanya menjadi cerita sekarang.

Aku mengekor dibelakangnya menuju halaman depan. Ketika aku sampai di depan, pintu mobil terbuka dan seorang wanita keluar dengan menggendong anak kecil dipundaknya. Dani menyambar anak itu dan menggendongnya lalu berjalan ke arahku.

"Ini Jovian, Sa. Anak aku. Ganteng kan dia mirip ayahnya?" Ucapnya sambil tersenyum jahil. Aku tersenyum canggung mendengar ucapannya. Aku pandangi anak itu. Dia begitu menggemaskan. Garis-garis wajahnya benar-benar sudah hasil campuran Dani dan istrinya. Membuat ia terlihat begitu tampan meskipun masih diselimuti kulit bayi. Aku membayangkan bagaimana rupanya dua puluh tahun ke depan. Dia akan menjadi laki-laki yang begitu rupawan. Tak kusangka air mata menetes di pipiku. Melihat kehangatan yang terjadi antara Dani dan anaknya membuatku tak kuasa menahan rasa haru. Entah ini air mata sedih atau bahagia. Valerie yang sedari tadi berdiri memperhatikan suasana, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berjalan ke arahku. Ia wanita yang cantik. Perpaduan Valerie-lah yang membuat Jovian bisa menjadi setampan itu meskipun dia masih bayi. Ah, seharusnya aku yang berada di posisimu sekarang Val.

"Hey. Aku Valerie. Dani pasti udah banyak cerita tentang aku didalam tadi. Senang bisa ketemu sama kamu." Ia mengakhiri kalimatnya dengan menyunggingkan senyum yang entah mengapa senyuman itu terlihat begitu tulus. Seharusnya Dani bisa membuka hatinya untuk perempuan seperti ini. Tapi kurasa dengan kehadiran anak dan sikap lembut Valerie yang seperti ini, tidak akan lama lagi Dani akan melupakan aku dan fokus terhadap keluarga kecilnya.

"Terima kasih telah jaga Dani selama ini. Semoga keluarga kalian diberi kesehatan selalu." Ucapku.

Valerie menghampiri dan memelukku dengan erat. Ia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu. 'Maaf telah merebut Dani darimu. Aku harap kamu dapat memaafkan aku. Aku mencintai Dani'.

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Dan tetap memaksakan senyumku untuk terus terlihat. Tak lama, mereka pamit pulang. Setelah kepulangannya, aku masih dibuat terpaku oleh suasana.

Dani, kurasa hari ini adalah hari yang tepat dimana aku dapat memastikan kalau kamu tidak akan pernah kembali. Bahwa cerita yang telah kita lalui tidak akan pernah bisa terulang lagi. Dani, hari ini aku belajar satu hal. Bahwa hidup terkadang tidak bisa selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dan satu hal lagi bahwa pada kenyataannya, cinta memang tidak harus memiliki.

***

Suasana hening malam menemani lamunanku sebelum pejam. Terlalu banyak kejutan yang aku dapatkan hari ini. Sudah bertahun-tahun lamanya aku terkungkung dengan perasaan benci yang aku buat sendiri. Membenci Dani untuk melupakannya. Membencinya dan menutup diri dari cinta yang datang. Aku begitu menyiksa diriku sendiri untuk waktu yang cukup lama. Setidaknya sebelum Sky hadir. Namun pada kenyataannya, Sky juga menggoreskan luka di hatiku. Merobek kepercayaanku selama ini untuknya. Lalu Dani datang lagi. Membawa angin segar dimana ia menyatakan bahwa ia masih mencintaiku. Namun kenyataannya, seberapa besar pun rasa cinta itu, kami tidak akan pernah bisa kembali bersama. Tuhan begitu banyak memberiku pelajaran tentang arti keikhlasan. Tentang pemaafan terhadap orang lain, juga terhadap diriku sendiri. Detik ini aku sadar bahwa aku harus memutuskan untuk mengakhiri kontak apapun dengan Dani. Untuk menjaga perasaanku, perasaannya, dan yang paling utama untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangganya. Aku mengambil ponselku dan memblokir nomor Dani lalu menghapusnya. Aku harap dia tidak lagi memiliki keinginan untuk berusaha menghubungiku kembali. Dan semoga apapun situasinya, tidak akan ada lagi hal yang mengharuskan aku untuk menghubungi Dani lagi. Tak peduli seberapa ingin aku melakukannya, aku harus bisa menahan diriku sendiri.

Tiba-tiba ringtone ponselku berhasil memecah lamunan. Aku memeriksa layar ponselku dan mendapati nama Sky disana. Aku bingung harus menjawabnya atau tidak. Sejenak aku berpikir, aku tidak ingin lagi hidup diselimuti dengan tanda tanya. Aku tidak ingin lagi hidup dalam kebencian. Aku tidak ingin hubunganku dengan Sky menjadi seperti hubunganku dengan Dani karena ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sky punya hak untuk memberi penjelasan padaku dan apabila yang dikatakan Nadia padaku merupakan kebenaran, Sky pun berhak membela dirinya untuk hal itu. Aku tidak ingin lagi terkungkung dalam perasaan membenci. Aku ingin lepas. Aku ingin damai. Aku ingin menyelesaikan semua perkaraku dengan semua orang. Aku ingin memberi diriku kebebasan untuk menentukan hal apa yang paling baik untuk diriku sendiri. Aku tidak akan menyiksa diriku lagi. Aku berhak bahagia.

***
"Hallo, Sa. Akhirnya kamu jawab telpon aku. Aku minta maaf sama kamu. Kamu cuma salah paham. Nadia dateng untuk curhat tentang Jimy. Aku ngga ada maksud main api dibelakang kamu, Sa. Demi Tuhan aku ngga punya niatan kaya gitu. Aku tahu kamu pasti susah maafin aku. Aku tahu hal ini bakal susah ngebuat kamu percaya lagi tentang cinta. Aku tahu, Sa, kamu punya masa lalu yang sampai sekarang belum selesai. Hadirnya aku di hidup kamu untuk ngebantu ngelupain masa lalu itu. Untuk bikin kamu percaya lagi tentang cinta. Untuk mencairkan hati kamu yang udah sekian lama beku. Selama ini aku rasa aku udah berhasil ngeluluhin hati kamu yang keras itu. Aku ngga akan rusakin hasil perjuangan aku untuk ngeluluhin hati kamu, dengan main api sama orang lain. Dapetin kamu itu susah, Sa. Ngebuat kamu percaya kalau aku cinta sama kamu aja butuh perjuangan yang berat. Aku pengin kamu kasih aku satu kesempatan. Kalau kamu kasih itu, aku akan gunain kesempatan itu untuk memperbaiki semuanya."
Aku terdiam. Berusaha mencerna kata-kata yang telah diucapkan oleh Sky. Aku menimbang-nimbang kalimat apa yang seharusnya aku keluarkan. Tetapi yang keluar malah, "Aku udah ngantuk banget, Sky. Kita lanjut obrolannya besok, ya." Dan aku memutuskan sambungan telponnya tanpa kalimat lain lagi.

Beberapa menit setelah itu aku mendapati diriku menjadi sangat bersalah. Sky tulus meminta maaf padaku. Namun apa yang aku lakukan merupakan keegoisan yang teramat sangat. Aku bahkan tidak menanggapi sedikit pun kalimatnya. Aku benar-benar bertengkar dengan diriku sendiri saat itu. Ternyata sulit memberikan maaf pada seseorang yang tidak kamu cintai dengan sepenuhnya. Lain hal saat Dani kembali, lalu meminta maaf padaku. Kehadirannya saja sudah menyembuhkan lukaku. Tanpa mengemis permintaan maaf, aku sudah langsung memaafkannya dan melupakan seluruh kesalahan yang telah ia perbuat. Jika dibandingkan lebih besar mana kesalahan yang telah Dani lakukan dan yang telah dilakukan oleh Sky, sungguh sangat jauh berbeda. Kesalahan Dani benar-benar jauh lebih fatal. Tetapi mengapa lebih sulit memaafkan Sky dari pada Dani?

***

Setelah perdebatan terjadi cukup lama antara hati dan pikiranku, aku sekarang berada di sebuah taman di dekat rumah sambil menunggu kehadiran Sky. Aku menginginkan berbicara empat mata dengannya. Sky datang tidak lama setelah aku datang ke tempat itu.

"Kenapa ajak ketemuan disini? Kan aku bisa ke rumah. Udah malem juga kan. Kerumah kamu aja, yuk!" Ajak Sky.

"Aku mau liatin bintang dan ngerasain angin malam." Ucapku tanpa melihat kearahnya.

Aku memfokuskan pandanganku ke arah langit. Melihat bintang yang sedang berkedap-kedip. Oh, Dani apa kamu bahagia dengan keluarga kecilmu saat ini?

"Kamu mau tahu sesuatu?" Tanya Sky.

"Apa?"

"Aku ngga tahu orang ini kenal aku dari mana. Tapi pertemuan aku sama dia bener-bener membuat aku lebih banyak tahu tentang kamu."

Aku terperanjat. Dan mengerjap-mengerjap sebentar sebelum Sky menyadari perubahan ekspresi yang berhasil aku lakukan secara spontan. Sky hanya tersenyum tipis melihat ekspresiku saat itu.

"Seseorang bernama Dani minta aku untuk ketemu. Aku inget namanya dari cerita-cerita kamu. Aku pun mengiyakan ajakannya. Kita ngomongin kamu. Dia bilang dia masih sayang sama kamu tapi keadaan ngga memungkinkan kalian untuk bersama lagi. Pas denger itu aku pengin tonjok dia rasanya. Dia dengan entengnya ngomong kaya gitu di depan aku. Tapi dia juga minta aku untuk terus ngejaga kamu mewakili dia yang cuma bisa memantau dari jauh. Sekarang keberadaan aku disini cuma untuk minta maaf sama kamu atas kejadian waktu itu. Untuk urusan perasaan kamu kaya gimana ke aku, aku ngga mau paksain. Kalau kamu masih belum siap untuk buka hati kamu buat orang lain, aku bisa terima itu."

"Sky, apa yang udah Dani bilang itu pasti bener semuanya. Kembalinya dia di kehidupan aku ngebuat aku bener-bener dipaksa kembali merasakan perasaan aku yang dulu pernah ada untuk dia. Yang sampai sekarang aku rasa masih sama. Tapi terkadang kehidupan engga sesuai sama ekspektasi kita. Garis Tuhan sudah digambar bahwa aku sama Dani memang ngga akan bisa sama-sama lagi. Aku realistis dan aku bisa terima itu. Dan untuk masalah kita kemarin, aku emang marah sama kamu. Aku emang kecewa sama kamu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, penjelasan kamu tentang hal itu cukup masuk akal. Jadi aku pikir aku bisa maafin kamu."

"Jadi kamu sama aku sekarang bisa balik seperti biasa lagi?" Tanya Sky.

"Aku belum bisa pastiin itu. Memaafkan kamu bukan berarti membuat aku menginginkan kembali menata hubungan kita. Aku masih terlalu kalut untuk menjalani hubungan apapun sekarang. Masih ada campur aduk perasaan tentang Dani di dalam hati aku, Sky. Aku masih belum bisa pastiin hati aku maunya kemana. Aku harap kamu ngerti."

"Aku ngga ngerti. Dan ngga akan pernah ngerti. Kenapa kamu ngga bisa ngeliat sedikit aja keberadaan aku dibanding mantan kamu yang legend itu. Aku ngga ngerti apa yang masih kamu harapkan dari dia yang kenyataannya sekarang udah punya keluarga. Aku ngga ngerti sama jalan pikiran kamu yang dibutakan oleh cinta masa lalu kamu yang sampai hari ini kamu anggap masih belum selesai. Aku ngga tahu mau sampai kapan kamu kaya gini. Mau sampai kapan kamu ngebuang orang-orang yang udah berusaha peduli sama kamu dan berusaha ngeluarin kamu dari luka masa lalu?"

Aku mulai menangis. Teringat kembali wajah Dani yang sedang tersenyum. Memoriku melesat jauh mengingat kembali apa yang telah terjadi di masa lalu. Saat kami berduaan di kantin sekolah. Saat kami asyik membaca buku di perpustakaan. Saat kami berdua berjalan berdampingan saat pulang. Saat pertama kali Dani menciumku di suatu kesempatan. Semuanya begitu terasa menyesakkan. Memori itu kembali menari-menari dipikiranku sekarang. Lalu memori itu terganti dengan wajah anak kecil nan menggemaskan yang di gendong oleh seorang wanita cantik. Saat ketiganya masuk kedalam mobil dan membuatku terpaku dengan suasana. Air mata membanjiri pipiku saat itu. Sesak di dada tak dapat aku bendung lagi. Sky menenangkanku dengan memberikan aku dekapan hangat. Ia mengelus-elus rambutku dan sesekali mendaratkan kecupannya di dahiku sambil terus memelukku kembali. Aku memandangi wajahnya yang sedang tidak melihat ke arahku. Wajah itu yang berhasil menyembuhkan luka lamaku. Wajah itu yang dengan susah payah berjuang membuatku lepas dari masa lalu. Wajah itu yang sudah menemaniku selama ini. Mendengarkan keluh kesahku. Menyayangiku dengan tulus meskipun ia tahu bahwa bukan namanya yang selama ini aku sebut. Meskipun ia tahu jika aku masih menyayangi laki-laki lain. Aku memeluk tubuh Sky juga. Menghambur di dalam pelukannya yang hangat. Mencoba meredam segala emosi yang aku rasakan saat itu. Menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan pikiranku.

"Aku minta maaf, Sky. Aku bener-bener minta maaf. Selama ini aku ngga liat keberadaan kamu. Aku ngga hargain perjuangan yang udah kamu lakuin buat aku. Aku sayang kamu, Sky. Aku mau kita sama-sama benahin hubungan kita lagi. Aku mau ngga ada lagi hantu masa lalu di dalam hubungan kita. Aku engga akan bahas tentang masa lalu lagi. Aku mau kita berusaha untuk terus saling sayang meski apapun kondisinya."

Aku terisak saat aku harus mengatakan semua kalimat itu. Kalimat itu keluar begitu saja tanpa permisi. Kurasa, hatiku benar-benar lelah. Dan yang kuinginkan saat ini hanyalah seseorang yang dapat mengerti perasaanku dan dapat mencintaiku dengan tulus.

"Aku seneng kamu ngomong begitu. Kalimat itu yang mau aku denger dari kamu. Aku juga sayang sama kamu, Sa. Ngga peduli untuk saat ini hati kamu buat siapa. Yang terpenting kamu milik aku. Dan aku siap jagain kamu dari apapun. Maafin kalo kemarin aku bikin salah sama kamu. Sekarang kita pulang, ya."

Aku hanya mengangguk. Lalu kami beranjak dari tempat itu. Kita berjalan beriringan di dalam kegelapan malam di bawah langit yang sedang bertaburan bintang.

Sky, boleh jadi aku memang belum bisa sepenuhnya buka hati aku buat kamu. Tapi kehadiran dan rasa sayang kamu ke aku bener-bener udah cukup. Untuk Dani, kita memang tidak lagi di takdirkan untuk bersama. Aku berterimakasih atas kenangan yang sudah kamu berikan. Dan untuk diriku, terimakasih karena telah belajar arti keikhlasan dan juga pemaafan. Terimakasih telah menjadi kuat untuk menghadapi situasi seperti ini. Terimakasih karena sudah bangkit kembali saat kamu jatuh untuk yang kesekian kali. Terimakasih karena telah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan untuk Tuhan sang pencipta semesta alam, terimakasih telah memberiku pelajaran tentang arti cinta dan kasih sayang. Tentang arti mencintai tanpa harus di dalam kebersamaan. Terimakasih telah membantuku bangkit, meski telah berkali-kali aku jatuh. Terimakasih telah menjaga perasaanku dari keinginan untuk membenci yang tak berkesudahan.

Bersambung....

Baca Cerita Selanjutnya: Berdamai dengan Masa Lalu (Part 2): Suara Hati Dani




Penulis:
Bahha Taqiya

______________
Image Credit: 11points.com


Share this:

Post a Comment

Salam, Pemuda!
Saatnya yang Muda yang Bicara!


Terima kasih telah berkunjung, silakan berkomentar :)

*Segala hal yang berkaitan dengan tulisan dalam website ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis tersebut sesuai yang tertera di bagian awal atau akhir tulisan.

________

// MudaBicara is one of Youth Community or Non-Profit Organization in Indonesia. We strive to provide a place for young people to voice ideas and literary works //

 
Copyright © MudaBicara.com - Youth Community | Designed by OddThemes